0899-3177-090 relasibuku@gmail.com

Perang Cina-Jawa: Ambivalensi Elite Politik Jawa, Hegemoni Korporat VOC, dan Genealogi Perlawanan Etnis Tionghoa (1740-1743)
Penulis: Danang PG
Editor: Afghani Suhastama
Cetakan 1: 2026
Halaman: xii + 98
Ukuran: 14 x 20 cm

Tragedi Geger Pacinan atau pembantaian etnis Tionghoa di Batavia pada 1740 merupakan kulminasi dari kegagalan hegemoni korporat Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dalam mengelola krisis ekonomi industri gula. Kebijakan represif yang didorong oleh ambisi laba sepihak memicu exodus besar-besaran para penyintas menuju wilayah timur, yang kemudian melahirkan genealogi perlawanan lintas etnis yang sangat terorganisir. Di tengah kekacauan tersebut, muncul ambivalensi elite politik Jawa, khususnya pada sosok Pakubuwana II, yang terjebak dalam dilema antara menjaga kesetiaan kontrak militer dengan kompeni atau merespons sentimen anti-kolonial dari para bangsawan keraton yang pro-perlawanan. Sikap bermain di dua kaki ini mencerminkan kerapuhan kedaulatan Mataram yang berada di bawah bayang-bayang kendali corporate state yang rakus.
Perlawanan ini mencapai puncaknya ketika laskar gabungan Tionghoa dan Jawa berhasil menduduki Keraton Kartasura dan menobatkan Raden Mas Garendi sebagai Sunan Kuning, sebuah simbol nyata dari aliansi naga dan banteng melawan dominasi asing. Namun, persatuan ini akhirnya goyah akibat strategi divide et impera yang dilancarkan VOC melalui manipulasi politik terhadap para penguasa lokal. Kegagalan aliansi ini tidak hanya berujung pada kehancuran fisik Kartasura, tetapi juga memaksa terjadinya Palihan Nagari yang membelah tanah Jawa menjadi Surakarta dan Yogyakarta. Warisan lelah dari perang ini meninggalkan luka sejarah yang mendalam, sekaligus membuktikan bahwa semangat vreemde overheersing atau perlawanan terhadap penjajahan asing pernah menyatukan identitas yang berbeda dalam satu garis perjuangan yang heroik namun tragis.