
Kapitan Cina: Elit yang Dibangun dan Dihancurkan—Ko-opsi Pra-Kolonial, Transformasi Fungsional hingga Runtuhnya Elit Tionghoa
Penulis: Aulia Rahmat SM
Editor: Afghani Suhastama
Cetakan 1: 2025
Halaman: xii + 100
Ukuran: 14 x 20 cm
Jabatan Kapitan Cina (Kapitein der Chinezen)—sebuah gelar yang secara harfiah melambangkan elit yang dibangun dan dihancurkan—memulai riwayatnya dalam mekanisme ko-opsi pra-kolonial yang pragmatis. Sebelum Eropa mendominasi, para penguasa lokal di Nusantara telah lama mendelegasikan otoritas kepada pemimpin etnis Tionghoa untuk mengatur komunitas imigran dan perdagangan mereka, sebuah praktik yang diwarisi oleh VOC. Belanda, yang enggan menanamkan modal birokrasi yang besar, secara cerdas mengambil alih struktur selfgovernance ini.
Mereka menunjuk Kapitan sebagai agen kunci dalam pemerintahan tidak langsung (indirect rule), memberikan mereka yurisdiksi eksekutif dan yudikatif untuk menjaga ketertiban, mengelola Pecinan, dan, yang terpenting, menjamin loyalitas komunal.
Fungsi Kapitan kemudian mengalami transformasi fungsional yang intensif dan sinergis dengan kebutuhan imperial. Jabatan tersebut dilembagakan menjadi hierarki Hoofden der Chinezen (Majoor, Kapitein, Luitenant), yang secara kolektif didominasi oleh oligarki Cabang Atas—keturunan Tionghoa-Peranakan yang kaya raya. Fungsi Kapitan bergeser dari sekadar pengumpul iuran menjadi arsitek fiskal kolonial.