
Arab Spring: Dialektika Kekuasaan, Fragmentasi Negara, dan Restorasi Otoritarianisme
Penulis: M. Subkhan Zuhairi
Editor: Nada Dianti
Cetakan 1: 2026
Halaman: xvi + 396
Ukuran: 14 x 20 cm
Arab Spring memicu dialektika kekuasaan yang meruntuhkan tesis otoritarianisme lama, namun justru melahirkan antitesis berupa fragmentasi negara dan kekacauan sistemik di wilayah seperti Suriah dan Yaman. Secara geopolitik, runtuhnya sentralitas otoritas ini mengubah kedaulatan domestik menjadi medan perang proksi (proxy wars) bagi kekuatan regional, di mana identitas nasional terfragmentasi menjadi faksi-faksi sektarian. Kegagalan transisi demokrasi ini menciptakan vakum keamanan yang menghancurkan tatanan sosial, memaksa kawasan tersebut masuk ke dalam pusaran instabilitas yang mengancam integritas teritorial secara permanen.
Sebagai penawar terhadap anarki, muncul restorasi otoritarianisme yang memanfaatkan fenomena chaos fatigue atau kelelahan publik untuk mengonsolidasi kembali kekuasaan absolut. Rezim-rezim baru ini mengadopsi teknik penindasan mutakhir melalui surveilans digital dan legislasi anti-teror guna menjamin stabilitas teknokratis yang dingin. Secara intelektual, kedaulatan kini didefinisikan ulang melalui realisme politik mentah, di mana kebebasan sivil dikurbankan demi ketertiban makro dan pertumbuhan ekonomi, menciptakan wajah baru “Orang Kuat” Timur Tengah yang didukung oleh aliansi regional pro-status quo.